Archive for June, 2006

Hasratku

Thursday, June 22nd, 2006

malam-malam sepi nan dingin,

aku menatap ke luar jendela kamarku

jalanan sepi, gelap tiada kehidupan

hanya terkadang bunyi sirene polisi patroli menyemarakkan suasana malam

lelah sudah aku latihan

jenuh menatap layar komputer

mulai bosan, mulai lapar

kangen cemilan, tapi English food tak ada rasanya…

kuhela napas panjang, huuuuh…

berharap ada keajaiban

seseorang datang sambil membunyikan ketokan kayu

teriakan memanggil pelanggan yang rindu ingin kudengar

dan ketika dia mendekat, akan tercium bau asap kuah daging sapi

bau saos tomat murahan, bau sambel oranye dan kecap

tentunya dengan bihun putih dan bawang goreng

slurp.. *ngecesss*

wahai tukang bakso,

kenapa tidak ada keajaiban yang membawamu terbang ke mari,

lengkap bersama gerobak dan ketokan kayumu,

untuk memenuhi hasrat perut dan lidahku ini??

*tjemarinyanglagikangenjajanbakso*

Migrain di siang hari

Monday, June 19th, 2006

duh sakit kepala gue kambuh..

siang-siang hari, hujan gini enaknya tidur

malah terjebak di kelas dengerin orang-orang main contemporer pieces

atonal pula, bikin tambah pusing

mau keluar ga enak sama gurunya, ga ada alasan

mau ijin ke toilet kok kesannya rusuh bolak-balik buka tutup pintu

merem-merem dikit ntar kebablasan

tapi mana bisa bablas tidur pake atonal gitu?

nyut..nyut..nyut rasanya kepala gue

waoww…waoww..waoww tuh semua bunyi atonal

Marathon Badinerie

Sunday, June 11th, 2006

Dari semua karya flute, gue paling bosan sama B Minor Suite-nya JS Bach yang movement terakhir, yaitu Badinerie. Alasan: terlalu populer.

Sedikit cerita, B Minor Suite ini dimainkan oleh orkes gesek dan flute. Karya ini cukup panjang, terdiri dari 7 bagian dan memiliki pola French Suite atau dance suite. Banyak pengulangan di setiap bagian. Kalau dimainkan lengkap, bisa makan waktu kira-kira 25-30 menit. Disini flute memegang peranan penting. Nyaris sebagai solis karena banyak bagian dimana solo flute menonjol. Model concerto grosso ala Barok gitu lah kira-kira, saru ngga saru, tapi solisnya cuma satu. Karena peranannya yang penting, maka guru gue bermaksud untuk membahas part flute di suita ini.

Nah si bagian terakhir yaitu Badinerie adalah bagian paling cepat dari seluruh suita dimana terlihat bahwa Bach ingin menonjolkan sisi virtuositas flute (btw jelas akan jadi virtuositas kalo maininnya pake flute barok, soalnya susah banget. Kalo pake flute modern mah, lain cerita *blagu mode ON*. kapan-kapan gue ceritain deh soal usaha berdarah gue mainin flute barok).

Balik ke sikap gue tadi, inilah fenomena yang gue lihat terhadap bagian terakhir B Minor Suite yang disebut Badinerie: hampir pada setiap CD musik flute yang biasanya dikasih label Classical Music for Babies/Toddler/Kiddies atau apalah gitu (diyakini untuk konsumsi janin atau bayi baru lahir), CD top ten flute music, atau bahkan CD pengenalan karya-karya flute; Badinerie biasanya wajib ada. Sedikit info ya, flutis yang paling beken memainkan karya ini adalah tiada lain The Man with The Golden Flute, Sir James Galway. Sebagai artis flute yang paling banyak memiliki recording, Badinerie udah jadi trademark-nya doi.

Selain itu, Badinerie juga masuk ringtone handphone, bo!! Posisinya kini sejajar dengan Simfoni 40 Mozart atau Carnival Animal Saint-Saens sebagai karya-karya musik klasik di ajang top chart ringtone. Perfecto. Sebenernya ngga ada problem, justru seharusnya sebagai pemain flute gue kudu bangga karena karya flute mulai dikenal orang (walaupun belum tentu Nokipret user tahu kalo ringtone itu adalah flute music). Tapi gue jadi makin bosen dan entah kenapa emoh untuk memainkan karya itu.

Minggu lalu gue dapat pelajaran menarik dari hal ini. Ada kelas pembahasan B Minor Suite. Mampus lu, berarti urusan sama Badinerie. Tapi tunggu dulu, dari 7 bagian, kita harus belajar paling ngga 2 bagian. Hahaha… asik, gue belajar aja bagian Sarabande dan Bouree, soalnya menarik dan enak didengar. Lagian 4 tahun lalu gue udah pernah belajar suita ini, jadi sekarang tingga ngulang aja lagi. Badinerie tentunya tidak saya sentuh.

Pas hari H, dengan tenang gue maju ke depan kelas. Mainin yang gue pelajarin dengan lancar. Dapet feedback positif dari guru dan teman-teman, sekalian membahas artikulasi gaya Barok. Easy peasy, dunia damai, sip dah!!

Semua teman juga dapat giliran maju dan memainkan bagian yang sudah mereka siapkan. Tapi lucunya, tidak ada satupun yang mau memainkan Badinerie!!! Gue jadi bertanya-tanya, apakah semua orang disini ngga berminat ya sama bagian itu? 10 menit menjelang kelas berakhir, semua orang dah dapat bagian. Tapi tetap tidak ada Badinerie. Kita semua mulai saling tengok-tengok curiga nih.

Dan bener kan, ada kejutan. Dengan manisnya, guru gue bilang, "Yah sekarang semua orang harus maju main Badinerie. Buruan, in tempo Allegro karena waktu kita tinggal 10 menit. Ini ada berapa orang? Satu..dua..tiga.. well, 8 orang. That’s enough for everybody. This is the showpiece of this Suite, so everybody has to play!"

*waks*

Kebayang ngga, semua orang langsung bengong. Nek, ga ada yang belajar bagian itu. Gue masih mending karena udah pernah belajar sebelumnya. Itu anak-anak kecil umur 18-20 tahun banyak yang belon pernah mainin suita ini dengan lengkap. Assoy geboy sight reading.

Akhirnya mulailah marathon Badinerie. Korban pertama maininnya lambat, moderato saja. Kelar, langsung korban kedua maju. Lumayan lebih cepet dikit. Korban ketiga gue: makan teman, langsung mainin allegro (kelar main trus dipelototin korban keempat karena gue udah bikin standar lagu kudu allegro beneran, wakakakak…).

Lucunya pas korban terakhir, nih anak cuek bebek. Dia balik mainin lagu ini ke tempo moderato lagi karena dia bersumpah mati bahwa dia belum pernah tahu lagu ini sama sekali. Wah, ini anak kuper namanya. Yang cukup bahagia dalam situasi ini adalah si pianis pengiring. Dia sampai hafal mainin part piano-nya karena mengulang 8 kali dalam waktu 10 menit.

Kesimpulan, ternyata kemalasan gue terhadap Badinerie sebagai "top pop" dari musik flute membuahkan hasil. Gue ga perlu mikir lagi karena udah hafal plek di kepala berkat seluruh ringtone dan CD yang selalu gue dengar sehari-hari. Langsung main aja, not-nya dah kepegang. In tempo pula. Lumayaaaaann!!

Setelah kelas berakhir, di kepala gue jadi ada nada begini nih: tat, tararat, tararat, tararat.. Tiketiketiketike, tiketiketike…