British Flute Society International Flute Convention 3 minggu lalu di Manchester adalah ajang flute besar pertama yang gue hadiri. Acaranya 4 hari, penuh dengan berbagai kegiatan mulai dari jam 7 pagi sampai 11 malam. Kita mau ngapain aja yang berhubungan dengan flute, bisa!! Resital, workshop, pameran dan ajang jual beli alat; semua ada disini!!
Acara-acara pagi biasanya diisi dengan pemanasan bersama; dilanjutkan dengan resital bintang-bintang tamu. Setelah makan siang biasanya ada workshop mengenai reparasi flute, pembahasan etude Andersen opus 15, kelas sejarah Marcel Moyse, kelas extended technique-nya Ian Clarke, dan lain-lain yang ajaib-ajaib buat gue yang datang dari "desa flute" Indonesia.
Sebagai orang "ndeso", gue benar-benar terkesima dengan convention ini yang bagi gue ini merupakan cerminan dari gemerlapnya dunia flute British. Lengkap, mantap dan kinclong. Pemain flute dari seluruh pelosok Inggris (dan dari negara-negara lain) ada disini, dari yang amatir sampai profesional dan artis legendaris; semua kemarin. Para artis ini yang gue tunggu-tunggu karena gue sangat ingin mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri kecanggihan mereka.
Dan mimpi gue terwujud. Pertama yaitu idola gue yang paling legendaris dan masih hidup di dunia ini: William Bennet (soalnya Rampal sudah tiada sih, makanya pindah ke Bennet). Si kakek ini umurnya sudah 70 tahun, jalannya agak bungkuk, tapi mainnya tetap OKE. Semoga ntar kalo gue dah tua tetap bisa seperti dia, amien.
*Its WIBB!!*
Lalu ada artis Finlandia yang CD sonata Bach-nya selalu jadi panutan gue: Petri Alanko. Orangnya kecil kurus kayak pak Parno, tapi soundnya mantapfbh!!!! Ketemu dia di kafetaria pas lagi lunch, ga nyangka kalo itu artis yang rekamannya selalu gue dengerin di Jakarta.
Wissam Boustany dari Lebanon (yang seharusnya jadi guru gue kalo gue keterima di Trinity) bikin gue mengerti bahwa hasrat, musikalitas dan passion yang kuat akan memberi karakter pada permainan musik seseorang, lebih dari hanya sekedar kecanggihan teknik.
Idola baru gue di piccolo: Jean-Louis Beaumadier dari Perancis!! I learn to love the piccolo so much these days karena terbukti bahwa tone piccolo gue lebih bagus daripada flute, hahaha.. Anyway, si Jean-Louis ini bikin gue termotivasi untuk lebih serius ke piccolo. Kelar konsernya, gue langsung nyobain semua piccolo kayu yang mahal-mahal sambil ngiler sendiri karena keenakan. Duh, yang gue incer tuh piccolo kayu-nya Powell. Suaranya empuk, niupnya gampang. Slurp!
*Gue asik nyoba piccolo, temen gue nyoba wooden flute*
Rhonda Larson dari Amerika benar-benar artis yang sesungguhnya. Penampilannya OK dan sangat profesional, permainannya canggih. Dia membawakan folk music dengan berbagai world flute. Semua lagu dia hafal, staminanya bikin kita yang masih muda ini jadi malu sendiri kalo ingat bahwa kita sering mengeluh di kelas karena mudah capai. Dari Rhonda gue belajar untuk bersikap ketika konser didepan publik.
Yang bikin gue senang sekali adalah konser barok flute dari Rachel Brown!! Ini kali kedua gue nonton dia, dan selalu gue terpesona dengan ketepatan dan kecanggihannya memainkan karya barok dengan instrumen sulit itu. Bukan cuma itu, cara membawakan karya pun sangat "barok". Performance practice-nya nomor satu deh untuk acara kali ini.
Kalau Rhonda Larson "kinclong" di urusan world flute music, Emily Beynon yang principal flute di Concertgebouw Amsterdam paling keren di urusan classical music. Cita-cita gue untuk nonton sonata Prokovief secara live tercapai. Gila ini cewek akurat banget mainin sonata sulit itu. Persis kayak dengerin rekaman di CD karena permainannya bulat utuh sempurna.
Duh siapa lagi ya? Mathias Ziegler si pemain kontrabass flute dengan komposisinya yang edan, tapi enak didengar. Artis dari Amerika Selatan, Niurka Gonzalez memainkan Hungarian Rhapsody-nya Doppler dengan sangat bagus. Trus ada Lorna McGee dari Kanada yang tone-nya mengingatkan gue pada guru gue, Lynn Davidoff. Karakter tone kuat, sound bening, dan bikin gue terharu saat memainkan Samson&Delilah-nya Saint-Saens.
Satu yang bikin gue sangat kecewa adalah Susan Milan. Gue menanti-nanti penampilannnya karena dia spesialis dalam bidang French Flute repertoire. Tapi entah kenapa ketika dia memainkan lagu favorit gue, Ballade dari Perillhou; ancur banget!! Gue sampe kaget gitu, kok bisa artis rekaman Chandos performa-nya kayak amatir begitu ya, mainnya datar abis tanpa ekspresi, vibrato-nya tidak terkontrol. Apa mungkin udah ngga pernah latihan, berhubung doi sudah terlihat tua? Mengecewakan…
Bagaimanapun juga, gue sangat puas nonton konser bintang-bintang flute di Convention 2006 ini. I learnt a lot from them.