Archive for December, 2006

Concertino - Chaminade

Wednesday, December 27th, 2006

Syahdan pada tahun 2003, kali pertama les flute sama guru gue yang nomor tiga yaitu Lynn Davidoff; gue dikenalkan dengan repertoar-repertoar untuk flute yang berasal dari Perancis atau yang biasa disebut sebagai French flute repertoire. Repertoar-repertoar tersebut rata-rata diproduksi pada kurun waktu tahun 1850-1900an awal, yang mana bisa dimasukan dalam kategori era Romantis dalam musik klasik.

Gue senang banget sekaligus kaget saat itu. Senang karena selama 7 tahun gue belajar flute, gue belum pernah mainin karya Romantik untuk flute. Yang gue mainin melulu karya-karya Barok, Klasik dan langsung loncat ke jaman Modern, walaupun tidak banyak. Gue sempat bertanya-tanya, apakah ada repertoar besar untuk flute dari jaman Romantik? Tapi pertanyaan itu pupus sendiri karena kesibukan dan minimnya pengetahuan gue saat itu.

Kagetnya karena French flute repertoire menuntut tehnik permainan yang tinggi, alias advanced. Tehnik penjarian sudah pasti harus oke, karena permainan scale dengan hitungan not satu per tigapuluh dua hampir selalu ada didalam setiap repertoar. Range dan interval nada banyak terjadi, mulai dari C paling rendah sampai C oktaf 4. Loncatnya itu lho, ngga kira-kira untuk flute. Belum lagi tanda dinamik dan lain-lainnya yang harus dipatuhi. Plus ekstra sensitivitas musik yang besar, supaya lagu terasa tidak garing.

Maksudnya sensivitas tadi, kalau dibandingkan dengan karya jaman Barok dan Klasik, musik-musik Perancis ini lebih straight forward, sih. Semua tanda baca ada, jadi tinggal dimainin aja; dengan catatan interpretasi romantis harus dikedepankan, ceile…

Ada satu buku "wajib" yang isinya kumpulan karya-karya flute dari komposer Perancis, hasil editing dari Louis Moyse; isinya antara lain hasil karya dari Busser, Chaminade, Enesco, Faure, Gaubert dan Taffanel. Dari seluruh karya, yang paling gue pengen mainin dari dulu adalah Concertino-nya Chaminade. Alasannya: bagus banget.

Masalahnya, waktu tahun 2003 itu tehnik gue belum nyampe ke arah situ. Boro-boro mau nyobain lagu-lagu yang lain, waktu resital solo di Jakarta dan gue harus menggarap karyanya Faure yang notabene paling pendek dari buku itu aja setengah mati karena ngga ngerti gimana cara menggarap lagu itu. Waktu itu hasil dari Faure ya asal bunyi aja, yang penting benar ritme dan melodinya. Begitu gue harus berangkat ke Manchester, gue bertekad untuk ngupas abis isi buku itu, termasuk kegemaran gue, yaitu Chaminade.

Gue cabut ke Manchester kan bulan September 2004. Antara waktu tersebut hingga awal 2006, gue cobain semua karya yang ada di buku tadi. Dalam kurun waktu itu, dua karya sudah gue mainkan didepan publik, sisanya hanya didepan kelas flute atau dibahas bersama guru gue saja. Namun tetap Concertino-Chaminade ngga berani gue mainkan.

Entah kenapa kok kalau latihan gue selalu kepentok dengan bagian Presto dari lagu itu. Mungkin karena gue terlalu sering ragu, sehingga akhirnya tiap latihan Chaminade, gue cuma latihan setengah lagu itu aja. Mikirnya selalu, ah entar aja dikerjain. Secara tehnik, latian seperti itu ngga berguna banget. Buang-buang waktu aja. Tapi secara mental sih menurut gue berguna, soalnya bisa menghibur diri sendiri dengan mainin tema-nya yang indah itu *gubrak*

Akhirnya gue mulai mempelajari Chaminade dengan serius dari Juli 2006. Gue pikir, ini saatnya gue harus ngabisin itu buku. Jadi mau ga mau si Chaminade harus gue garap sekarang. Dan kali ini bener-bener niat, udah feeling kali yee bahwa akan ada event besar; makanya gue niat bener. Setiap penjarian yang sulit gue latih satu-satu, apalagi kromatik, huh!! Tiap interval rese gue latih berulang-ulang sampe orang rumah pada sebel semua dengernya. Bodo amet.

Bulan Oktober 2006 waktu gue masuk kuliah lagi, gue mainin itu Chaminade didepan guru gue. Dia kemudian bilang kalau gue udah saatnya ikutan kompetisi konserto tahun ini dengan Chaminade tadi. Waks..??? Mana ada kompetisi konserto cuma mainin satu konserto kecil yang hanya terdiri dari satu bagian? Gue emang berencana mau ikutan audisi itu, tapi mainin Mozart Konserto G Mayor. Klasik man, tiga bagian dan secara gue udah hafal. Tapi guru ngga setuju. Menurut beliau, kalau gue bisa memainkan Chaminade ini dengan serius; segala batasan dan halangan tehnik gue bisa terlampaui.

Waktu itu gue lagi stres karena selama summer belum pernah liburan, setiap hari kerja terus demi nabung. November besok akan pulang ke Jakarta selama 20 hari untuk nikahan adik gue. Semua yang gue lakukan di Manchester udah ngga ada artinya, yang ada di kepala gue cuma pulang-libur-makan-ketawa. Ngga ada tuh istilah kerja-kuliah selama di Jakarta. Makanya pada bulan-bulan sebelum November itu gue ngga konsentrasi terhadap apapun.

Biarpun lagi ga konsen pengen ngapa-ngapain, gue tetap mendaftar kompetisi tadi dengan mencantumkan Chaminade sebagai program. Temen-temen gue reaksinya ada yang positif dan negatif. Banyak yang ngga mengira bahwa gue sekarang berani untuk tampil ke ajang kompetisi bergengsi seperti itu, mainin konserto kecil pula. Banyak juga yang mendukung, termasuk orang-orang di rumah yang memaksa gue untuk latihan terus.

Bulan November ketika gue di Jakarta, dengan rela hati gue menghabiskan 2 minggu untuk latihan menghafal Chaminade. Liburan sih teteup, tapi sejam dua jam dalam sehari gue pake untuk ngafalin lagu dan latihan tehnik. Inilah masalah dari flutist, ngga pernah dipaksa untuk menghafal lagu seperti hal-nya pianis; makanya sekarang kerja keras deh, hehehe…

Balik lagi ke Manchester pas bulan Desember, udah hafal nih ceritanya. Tapi siapa dong pianisnya? Bisa aja sih pakai pianis pengiring dari kampus, tapi ga bakal bisa latihan karena kalau mau latihan khusus bareng mereka, gue harus bayar. Buat audisi gitu lho, bukan buat ujian. Males amet bayar.

Tapi dimana-mana kalau udah niat baik, emang selalu ada jalan. Dengan mudahnya gue mendapatkan teman gue, Tae Hee yang asalnya dari Korea untuk menjadi pianis. Gratis pula karena dia mayornya adalah piano accompanist. Dia belum pernah mengiringi flute, dan ajang ini dia pergunakan untuk belajar mengiringi alat tiup. Jadilah kita janjian untuk latihan. Dalam waktu seminggu, kita bisa latihan tiga kali. That’s more than enough, bahkan asik banget karena dia banyak kasih masukan buat gue.

Sebagai pianis, dia biasa membaca "peta" partitur dengan cara menyeluruh, antara lain analisa kord. Dan itu membantu gue untuk lebih mendalami frase lagu karena antara kord dan frase memiliki hubungan erat. Ngga ada alasan lagi buat gue yang biasa main single line atau monophony, untuk tidak memperhatikan hubungan tersebut. Pasti ada kaitannya, kalau ngga ngapain si komposer capek-capek nulis iringannya. Konserto pula gitu lho.

Oh iya, gue juga nemuin sedikit cerita dibalik karya ini. Ceritanya begini, si Chaminade yang ternyata seorang wanita ini suatu waktu jatuh cinta dengan seorang flutis pria. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, karena si flutis sudah memiliki kekasih. Untuk membuktikan cintanya, Chaminade mengarang Concertino untuk flute dan orkestra; dan memberikan karyanya ini kepada si flutis. Sayangnya ngga ngefek, si flutis tetap menikah dengan wanita pilihannya. Jadi mungkin tema besar dari karya ini adalah pengharapan cinta, aih aih aih….

Cerita tadi gue temukan dari situsnya James Galway, termasuk beberapa tips untuk mengerjakan karya Chaminade ini. Tips-tips itu bagi gue sangat berguna, walaupun gue ngga begitu suka dengan permainan Galway untuk lagu ini. Kayaknya kalau cowok yang membawakan lagu ini, jadi kurang romantis deh. Virtuoso tehnik melulu. Manuella Weisser atau Susan Milan bisa lebih oke membawakannya karena ada sentuhan feeling dan bagian Presto-nya tidak seperti dikejar setan.

Lanjut, pada akhirnya pas hari H gue main dengan lancar, syukur alhamdulillah. Tujuh menit dua puluh delapan detik itu merupakan prestasi baru buat gue untuk bisa tetap menghasilkan musik yang sesuai dengan keinginan. Hasilnya ngga tahu, tapi gue ngga mau terlalu memikirkan hal itu karena kompetisi ini gue jadikan batu loncatan untuk menuju advanced technique bagi permainan gue. Tujuan terakhir dari buku French repertoire tadi akhirnya sudah tercapai.

Senang banget karena gue juga merasa banyak dukungan dari teman-teman tercinta: Tae Hee yang rela bercapek-capek latihan tiga kali seminggu walaupun tugasnya dia juga banyak, si Jin yang mau jadi page turner pas hari H, dan Rmooz-ku yang rela nungguin dan dengerin dari luar ruangan pas gue main.

Terus sekarang setelah buku French repertoire habis, mau ngapain? Jreng jreng jreng… waktunya solo flute Kontemporer!!!

The_trio

   

marini-jin-tae hee after the competition :)