Flute pertama gue dibaptis dengan nama Bambang.
Entah kenapa kok gue milih nama itu. Bisa aja gue kasih nama yang lebih cantik atau feminin sedikit, tapi terasa kurang oke. Saat itu gue masih duduk di bangku kelas 1 SMA, dan lagi bergaul dengan teman-teman yang "dangdut" banget. Kita lagi jaman ngocol-ngocolnya tuh, segala hal yang berbau dangdut pasti jadi bahan celaan. Oh ya, udah gitu gue punya kecengan dari SMA tetangga (yang berlokasi di jalan Brawijaya sebelah taman Gajah, waddoooohh… kalo ga tau berarti lu bukan anak gaul Blok M) yang gue kasih nama samaran Bambang demi menyembunyikan identitas doi.
Si Bambang ini asalnya dari Elkhart, Indiana buatan pabrik flute yang mengkhususkan untuk flute pemula di Amerika Serikat, yaitu Gemeindhart. Statusnya student flute dengan seri 2NP yang terbuat dari nickel-silver, closed holes dan ngga pake E mechanism. Waktu itu di toko musik yang ada cuma dia, selain ada satu flute lain yang lebih mahal. Tentu saja si Bambang itu yang dibeliin oleh Bokap, maksudnya supaya kalau gue suatu hari nanti bosan main flute, jadi ngga rugi karena beli flute yang murah. Waktu itu harganya hanya 700 ribu, kalau ga salah tahun 1992.
Ternyata perkiraan Bokap meleset, gue malah tekun terus niup-niup. Bukan cuma itu, ini alat gue kasih nama pula. Walaupun si Bambang memiliki banyak keterbatasan, secara suara dan tehnik alat; tapi saat itu gue cukup bahagia memainkan dirinya karena waktu itu tokh gue belum jago-jago amat. Emang sih gue merasa kok susah banget untuk menghasilkan nada tinggi. Rasanya berat amat ditiup, apa gue yang salah ya? Tapi kebutuhan gue akan flute yang bagus belum ada saat itu. Dengan segala keterbatasan itu, gue keterima di orkestra UI Mahawaditra. Dan si Bambang pun ikutan tampil di konser Hari Anak Nasional yang disiarkan oleh TPI lho!!!
Setelah dua tahun aktif sebagai pemain di Mahawaditra, gue mulai merasa butuh flute baru. Alasannya karena si Bambang mulai ngga enak untuk dimainkan. Sebenernya mungkin waktu itu gue laper mata aja, gara-gara kebanyakan browsing flute di internet. Dan kebetulan ada temannya Oom gue yang tinggal di Amerika; jadi dengan manisnya gue minta dibeliin Gemeinhardt seri 2S yang materialnya silver semua.
Datanglah flute itu, kalau ngga salah tahun 2001. Langsung diberi nama Tessy gara-gara waktu itu gue lagi seneng nonton Srimulat (dan nge-fans sama Tessy). Tessy ini menjadi teman perjuangan gue saat mulai belajar meniti karir sebagai flutis. Gue saat itu semakin sering tampil bareng Mahawaditra, dan selain itu gue secara resmi sekarang terdaftar sebagai murid YPM. Artinya serius les flute, ada PR dan ada ujian. Bukan cuma itu, gue langsung diterima sebagai murid kelas 5, dan melanjutkan sampai ke Pra-Koservatori YPM untuk flute (jarang ada yang mau dan bisa lho untuk flute). Otomatis tampil di acara-acara YPM pun menjadi keharusan. Maka udah sepantasnya gue move on ke silver flute. Selain kualitas suaranya lebih oke dibanding nikel, memainkannya pun lebih mudah.
Walaupun si Tessy ini masih termasuk primitif karena tidak menggunakan E-mechanism, gue maju terus pantang mundur. Gue tetap berusaha untuk bisa mainin nada-nada tinggi dengan badak power, dan pernah sekali berhasil main C oktaf 4. Pilihan gue tetap pada closed-hole karena gue ngga punya referensi untuk memainkan open-hole flute. Oh iya, nasib si Bambang gimana? Alhamdulillah dia menemukan rumah baru! Bambang dibeli oleh temen gue yang berminat untuk belajar flute.
Sekitar tahun 2004-an, gue makin sering tampil (duile, kayak artis aja lu, Mar!!). Variasi repertoar yang gue harus mainkan makin beragam, dengan tingkat kesulitan yang makin tinggi. Gue ikutan National Youth Orchestra Indonesia, dan mulai sering dimintain bantuan untuk ngamen di Ambhara (grupnya mas Bagong) atau acara-acara ngamen lainnya. Jelas-jelas si Tessy tumbang karena kualitas suaranya kurang. Entah kenapa ya, walaupun udah terbuat dari silver tapi kok kualitas Gemeinhardt yang satu ini loyo banget. Apa mungkin materialnya kurang bagus, atau mungkin konstruksi flute-nya kurang memadai; pokoke suaranya tuh lirih manis.
Akhirnya dalam waktu singkat gue browsing flute baru lagi, dan menemukan Yamaha 411 di internet. Waktu itu gue udah mulai ngajar di Yamaha Gatot Subroto; dan gue tanya ke showroom-nya apakah mereka punya model tersebut. Mereka bilang ga ada, paling tinggi waktu itu cuma seri 3. Karena gue pengen banget, mereka akhirnya order langsung ke kantor pusat di Jepang secara khusus demi gue.
Datanglah flute baru ini pada bulan Agustus 2004, dua hari setelah gue pulang Umrah dari Arab. Maka langsung gue baptis dengan nama Qaswa, yaitu nama unta dari nabi Muhammad SAW. Dan gue sangat puas dengan flute ini karena kapasitas suaranya jauh lebih besar daripada Tessy. Selain itu mudah dimainkan pula, kayak berasa setelah 3 tahun susah payah niup Tessy sekarang kok niup Qaswa gampang banget. Ibaratnya ditiup langsung bunyi. Ada fasilitas E-mechanism pula, jadi lebih mudah mainin nada tinggi.
Bener-bener deh, beli Tessy itu kesalahan karena lapar mata doang… Sekarang si Tessy tersimpan dengan manis di rumah Jakarta. Ada teman yang mau beli tapi harganya ngga sesuai dengan kesepakatan. Akhinya ngga jadi ga gue jual. Sudahlah, siapa tahu itu untuk anak gue nanti dimasa depan.
However, ketika gue mulai belajar di RNCM-Manchester; si Qaswa ini tidak disetujui oleh guru-guru disini. Dia hanya dikatakan sebagai student flute, walaupun gue tidak pernah bermasalah dengannya ketika gue main di Indonesia. Guru privat gue menyarankan untuk ganti flute, tapi gue ngga punya uang untuk itu karena untuk ganti ke alat yang lebih mahal tentunya butuh uang banyak. Padahal untuk bisa sekolah disini aja udah untung, untuk hidup sehari-hari disini aja gue terpaksa kerja. Gimana cara mau beli alat baru?
Kalau memang musik didengar dan dinilai berdasar dari mahalnya instrumen, Qaswa bukan tandingan. Tetapi gue percaya bahwa musik datang dari hati, pikiran, dan tehnik pemainnya. Instrumen adalah pendukung semata, fasilitas untuk menyampaikan pesan dalam setiap lagu. Namun apa boleh buat, di negara yang dunia flute-nya sangat maju ini; gue terpaksa harus berkompromi dengan cara pandang mereka terhadap alat. Gue harus berkompromi dengan nilai-nilai mereka terhadap apa yang dibilang cempreng/merdu, scale A=442, dan lain-lain.
Maka jalan tengahnya adalah, kepala Qaswa "dipenggal" dan diganti dengan kepala Powell seri Q yang gue beli dengan harga 50% karena penjualnya kasihan sama gue. I have to admit sejak diganti kepalanya, Qaswa terdengar jauh lebih oke. Kalau kata guru gue, ngga cempreng lagi suaranya. Semua register bisa ter-cover dengan baik; nada rendahnya bisa besar dan nada tingginya bisa dimainkan lebih merdu tanpa kesannya menjerit.
Guru gue pada akhirnya mengerti keadaan gue yang datang dari negara dunia ketiga, yang mana beda mata uangnya sangat besar. Dia tidak mengeluh dan tetap sabar membina gue untuk memajukan tehnik permainan; despite the poor flute that I have. Masih ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan daripada ganti alat. Pernah ada satu guru lain yang protes karena flute gue ngga open-hole. Dengan cueknya gue ngga pernah lagi masuk ke kelas dia karena menurut gue masalah open atau closed hole adalah pilihan kita pribadi, sesuai dengan kenyamanan permainan dan preferensi repertoar kita.
Sekarang gue tetap hepi memainkan Qaswa. It never fails to accommodate my playing, selama gue tetap rajin merawat dan diperiksa ke tukang reparasi setahun sekali. Sekalinya Qaswa berulah yaitu pas ujian akhir tahun 2005 kemarin, nada C rendahnya ga bunyi!! Rupanya pad-nya bocor karena udah kelamaan ga diganti. Itu lebih karena kesalahan gue, menunda-nunda waktu reparasi akibatnya fatal. Terpaksa untuk ujian itu, kaki Qaswa gue copot dan gue ganti dengan kaki pinjaman dari flute Yamaha milik teman.
Gue tetap ada keinginan untuk ganti ke flute yang lebih bagus. Pernah dalam waktu 3 bulan gue rajin browsing flute sana-sini, tapi ga berhasil menemukan barang yang gue mau dengan harga yang sesuai seandainya si Qaswa dijual. Belum saatnya kali ye, lagian tidak mendesak. As I said before, Qaswa never fails to accommodate my playing….
*terms
-nickel silver = nikel
-E mechanism = sistem pada flute yang memudahkan pemain untuk memainkan nada E oktaf tertinggi
-open hole / closed hole = flute dengan sistem penjarian bolong atau tertutup. Pada penjarian bolong, lubang-lubang harus ditutup dengan jari pemain, seperti pada rekorder. Pada penjarian tertutup, lubang ditutup oleh klep yang ditekan oleh jari.