Archive for January, 2007

Hindemith Symphony in Bb - Wind Orchestra

Wednesday, January 24th, 2007

Ini kutipan yang gue ambil dari salah satu situs internet, lupa judulnya apa. Pokoknya tentang Simfoni Bb Hindemith:

"One of the greatest composers of the 20th century. He has played on every instrument he wrote for. His works include Symphonic Metamorphosis and many other orchestral pieces. His most famous piece of work was the Symphony in Bb. It consists of 3 movements and is regarded by many as the greatest piece of band literature ever devised. Many people who listen to Symphony in Bb will think it is some sort of "circus of doom". Only musicians really truly appreciate the work Hindemith has done."

Makanya gue seneng banget waktu gue kepilih untuk ikutan Wind Orchestra RNCM mainin karya ini. Hindemith gitu lho, suka banget. Mungkin karena terlalu aneh karyanya, persis gue; makanya gue sreg.

Sekarang baca komentar yang ini:

"The Paul Hindemith Symphony in Bb is the hardest piece of music ever!!! Playing it right is the greatest thing you can ever do as a musician."

Nah ini dia. Apa yang ditulis di komentar barusan tadi bener banget. Makanya kita dikasih jatah latihan 4 kali, padahal biasanya orkestra-orkestra kampus macam kayak gini latiannya cuma 3 kali udah termasuk gladiresik. Gue sih bersyukur aja soalnya pas latihan pertama gue bener-bener keblenger.

Tadinya sih gue udah hepi aja karena gue main flute 2. Tapi ngga ada cerita kayak di simfoni Mozart dimana flute 2 cuma jadi pemanis harmoni. Disini flute 2 punya solo-nya sendiri, dan pas bagian tutti selalu mainin not dan ketukan yang beda dari flute 1, ga pernah bisa barengan. Jadi ga bisa main sabun kayak pemain string, hahaha… Mana kondakturnya galakkkk banget. Orang Jerman. Kenapa ya mereka galak-galak gitu, dulu pas bayi dikasih makan apa ya sama emaknya?

Gue sempet bete pas latihan kedua, karena flute 1-nya nyebelinnn banget. Pas latihan tuh sikapnya sembarangan. Udah gitu sepak banget, disenyumin ga pernah bales. Akhirnya gue kongkalikong sama pemain piccolo-nya aja, seorang gay baik hati dari Scotland. Daripada gue jutek ga bisa kerja sama bareng prinsipal, mending gue cari temen lain.

Yang susah dari Wind Orchestra adalah keseimbangan bunyi dari seluruh alat tiup. Susah banget karena karakternya beda-beda, udah gitu dasar pemain tiup punya kecenderungan maunya niup keras terus. Apalagi pas barengan sesama tiup entah kenapa ada kecenderungan untuk "make noise" lebih banyak daripada kalo kita duduk bareng string orchestra. Persis tanjidor, maunya kenceng terus :)

Eh tapi karena kita flutis, jadi mainnya boleh agak lebih kenceng lho supaya ngga tenggelam sama suara alat tiup lain. Kesempatan, coii…

Pada akhirnya setelah 4 kali latihan, lancar juga. Konser pas jam makan siang itu pun berjalan dengan baik. Kondakturnya puas, kita yang main juga seneng karena berhasil "menguasai" satu simfoni Hindemith. Yeah…

Keajaiban Bakso: The Last of The Trilogy

Thursday, January 11th, 2007

Senin: sarapan mie goreng pake bakso rebus, makan malam pakai mie kuah dan bakso

Selasa: sarapan, makan siang dan makan malam berlauk bakso rebus atau goreng, pake nasi atau mie kuah

Rabu: sarapan dan makan siang pakai nasi goreng bakso, makan malam di luar tapi sebelum tidur sempat ngemilin bakso yang direbus trus dimakan pake saos sambel

Kamis: sarapan dan makan siang pakai mie dan nasi goreng bakso (gawat, persediaan bakso menipis)

Jumat: arrrrghhh…. jatah bakso hanya cukup untuk sarapan… ga papa, sikat dulu untuk hari ini. Besok urusannya lain.

Sabtu: (mewek berat)… ga ada bakso!!!!!

Terima kasih untuk mbak Mei Anwar yang telah berbaik hati memberikanku sejumlah besar bakso mentah buatan tangannya sendiri. Salut berat karena sebelum ini gue berusaha bikin bakso sendiri, tapi kurang sukses. Seminggu sebelum ini, mbak Mei tiba-tiba dengan baik hatinya menawarkan bakso buatannya, dan langsung gue sambut dengan tangan terbuka lebar. Akibatnya seminggu gue menggila dengan menu bakso setiap hari.

Rasanya? Sama kayak bakso jalanan ala abang-abang dorongan Jakarta!!! Kecil-kecil tapi gurih, dagingnya empuk. Walau bentuknya tidak bulat sempurna, yang penting rasanya dapat memuaskan keinginan terpendam selama di Manchester.

Suling-sulingku

Thursday, January 4th, 2007

Flute pertama gue dibaptis dengan nama Bambang.

Entah kenapa kok gue milih nama itu. Bisa aja gue kasih nama yang lebih cantik atau feminin sedikit, tapi terasa kurang oke. Saat itu gue masih duduk di bangku kelas 1 SMA, dan lagi bergaul dengan teman-teman yang "dangdut" banget. Kita lagi jaman ngocol-ngocolnya tuh, segala hal yang berbau dangdut pasti jadi bahan celaan. Oh ya, udah gitu gue punya kecengan dari SMA tetangga (yang berlokasi di jalan Brawijaya sebelah taman Gajah, waddoooohh… kalo ga tau berarti lu bukan anak gaul Blok M) yang gue kasih nama samaran Bambang demi menyembunyikan identitas doi.

Si Bambang ini asalnya dari Elkhart, Indiana buatan pabrik flute yang mengkhususkan untuk flute pemula di Amerika Serikat, yaitu Gemeindhart. Statusnya student flute dengan seri 2NP yang terbuat dari nickel-silver, closed holes dan ngga pake E mechanism. Waktu itu di toko musik yang ada cuma dia, selain ada satu flute lain yang lebih mahal. Tentu saja si Bambang itu yang dibeliin oleh Bokap, maksudnya supaya kalau gue suatu hari nanti bosan main flute, jadi ngga rugi karena beli flute yang murah. Waktu itu harganya hanya 700 ribu, kalau ga salah tahun 1992.

Ternyata perkiraan Bokap meleset, gue malah tekun terus niup-niup. Bukan cuma itu, ini alat gue kasih nama pula. Walaupun si Bambang memiliki banyak keterbatasan, secara suara dan tehnik alat; tapi saat itu gue cukup bahagia memainkan dirinya karena waktu itu tokh gue belum jago-jago amat. Emang sih gue merasa kok susah banget untuk menghasilkan nada tinggi. Rasanya berat amat ditiup, apa gue yang salah ya? Tapi kebutuhan gue akan flute yang bagus belum ada saat itu. Dengan segala keterbatasan itu, gue keterima di orkestra UI Mahawaditra. Dan si Bambang pun ikutan tampil di konser Hari Anak Nasional yang disiarkan oleh TPI lho!!!

Setelah dua tahun aktif sebagai pemain di Mahawaditra, gue mulai merasa butuh flute baru. Alasannya karena si Bambang mulai ngga enak untuk dimainkan. Sebenernya mungkin waktu itu gue laper mata aja, gara-gara kebanyakan browsing flute di internet. Dan kebetulan ada temannya Oom gue yang tinggal di Amerika; jadi dengan manisnya gue minta dibeliin Gemeinhardt seri 2S yang materialnya silver semua.

Datanglah flute itu,  kalau ngga salah tahun 2001. Langsung diberi nama Tessy gara-gara waktu itu gue lagi seneng nonton Srimulat (dan nge-fans sama Tessy). Tessy ini menjadi teman perjuangan gue saat mulai belajar meniti karir sebagai flutis. Gue saat itu semakin sering tampil bareng Mahawaditra, dan selain itu gue secara resmi sekarang terdaftar sebagai murid YPM. Artinya serius les flute, ada PR dan ada ujian. Bukan cuma itu, gue langsung diterima sebagai murid kelas 5, dan melanjutkan sampai ke Pra-Koservatori YPM untuk flute (jarang ada yang mau dan bisa lho untuk flute). Otomatis tampil di acara-acara YPM pun menjadi keharusan. Maka udah sepantasnya gue move on ke silver flute. Selain kualitas suaranya lebih oke dibanding nikel, memainkannya pun lebih mudah.

Walaupun si Tessy ini masih termasuk primitif karena tidak menggunakan E-mechanism, gue maju terus pantang mundur. Gue tetap berusaha untuk bisa mainin nada-nada tinggi dengan badak power, dan pernah sekali berhasil main C oktaf 4. Pilihan gue tetap pada closed-hole karena gue ngga punya referensi untuk memainkan open-hole flute. Oh iya, nasib si Bambang gimana? Alhamdulillah dia menemukan rumah baru! Bambang dibeli oleh temen gue yang berminat untuk belajar flute.

Sekitar tahun 2004-an, gue makin sering tampil (duile, kayak artis aja lu, Mar!!). Variasi repertoar yang gue harus mainkan makin beragam, dengan tingkat kesulitan yang makin tinggi. Gue ikutan National Youth Orchestra Indonesia, dan mulai sering dimintain bantuan untuk ngamen di Ambhara (grupnya mas Bagong) atau acara-acara ngamen lainnya. Jelas-jelas si Tessy tumbang karena kualitas suaranya kurang. Entah kenapa ya, walaupun udah terbuat dari silver tapi kok kualitas Gemeinhardt yang satu ini loyo banget. Apa mungkin materialnya kurang bagus, atau mungkin konstruksi flute-nya kurang memadai; pokoke suaranya tuh lirih manis.

Akhirnya dalam waktu singkat gue browsing flute baru lagi, dan menemukan Yamaha 411 di internet. Waktu itu gue udah mulai ngajar di Yamaha Gatot Subroto; dan gue tanya ke showroom-nya apakah mereka punya model tersebut. Mereka bilang ga ada, paling tinggi waktu itu cuma seri 3. Karena gue pengen banget, mereka akhirnya order langsung ke kantor pusat di Jepang secara khusus demi gue.

Datanglah flute baru ini pada bulan Agustus 2004, dua hari setelah gue pulang Umrah dari Arab. Maka langsung gue baptis dengan nama Qaswa, yaitu nama unta dari nabi Muhammad SAW. Dan gue sangat puas dengan flute ini karena kapasitas suaranya jauh lebih besar daripada Tessy. Selain itu mudah dimainkan pula, kayak berasa setelah 3 tahun susah payah niup Tessy sekarang kok niup Qaswa gampang banget. Ibaratnya ditiup langsung bunyi. Ada fasilitas E-mechanism pula, jadi lebih mudah mainin nada tinggi.

Bener-bener deh, beli Tessy itu kesalahan karena lapar mata doang… Sekarang si Tessy tersimpan dengan manis di rumah Jakarta. Ada teman yang mau beli tapi harganya ngga sesuai dengan kesepakatan. Akhinya ngga jadi ga gue jual. Sudahlah, siapa tahu itu untuk anak gue nanti dimasa depan.

However, ketika gue mulai belajar di RNCM-Manchester; si Qaswa ini tidak disetujui oleh guru-guru disini. Dia hanya dikatakan sebagai student flute, walaupun gue tidak pernah bermasalah dengannya ketika gue main di Indonesia. Guru privat gue menyarankan untuk ganti flute, tapi gue ngga punya uang untuk itu karena untuk ganti ke alat yang lebih mahal tentunya butuh uang banyak. Padahal untuk bisa sekolah disini aja udah untung, untuk hidup sehari-hari disini aja gue terpaksa kerja. Gimana cara mau beli alat baru?

Kalau memang musik didengar dan dinilai berdasar dari mahalnya instrumen, Qaswa bukan tandingan. Tetapi gue percaya bahwa musik datang dari hati, pikiran, dan tehnik pemainnya. Instrumen adalah pendukung semata, fasilitas untuk menyampaikan pesan dalam setiap lagu. Namun apa boleh buat, di negara yang dunia flute-nya sangat maju ini; gue terpaksa harus berkompromi dengan cara pandang mereka terhadap alat. Gue harus berkompromi dengan nilai-nilai mereka terhadap apa yang dibilang cempreng/merdu, scale A=442, dan lain-lain.

Maka jalan tengahnya adalah, kepala Qaswa "dipenggal" dan diganti dengan kepala Powell seri Q yang gue beli dengan harga 50% karena penjualnya kasihan sama gue. I have to admit sejak diganti kepalanya, Qaswa terdengar jauh lebih oke. Kalau kata guru gue, ngga cempreng lagi suaranya. Semua register bisa ter-cover dengan baik; nada rendahnya bisa besar dan nada tingginya bisa dimainkan lebih merdu tanpa kesannya menjerit. 

Guru gue pada akhirnya mengerti keadaan gue yang datang dari negara dunia ketiga, yang mana beda mata uangnya sangat besar. Dia tidak mengeluh dan tetap sabar membina gue untuk memajukan tehnik permainan; despite the poor flute that I have. Masih ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan daripada ganti alat. Pernah ada satu guru lain yang protes karena flute gue ngga open-hole. Dengan cueknya gue ngga pernah lagi masuk ke kelas dia karena menurut gue masalah open atau closed hole adalah pilihan kita pribadi, sesuai dengan kenyamanan permainan dan preferensi repertoar kita.

Sekarang gue tetap hepi memainkan Qaswa. It never fails to accommodate my playing, selama gue tetap rajin merawat dan diperiksa ke tukang reparasi setahun sekali. Sekalinya Qaswa berulah yaitu pas ujian akhir tahun 2005 kemarin, nada C rendahnya ga bunyi!! Rupanya pad-nya bocor karena udah kelamaan ga diganti. Itu lebih karena kesalahan gue, menunda-nunda waktu reparasi akibatnya fatal. Terpaksa untuk ujian itu, kaki Qaswa gue copot dan gue ganti dengan kaki pinjaman dari flute Yamaha milik teman.

Gue tetap ada keinginan untuk ganti ke flute yang lebih bagus. Pernah dalam waktu 3 bulan gue rajin browsing flute sana-sini, tapi ga berhasil menemukan barang yang gue mau dengan harga yang sesuai seandainya si Qaswa dijual. Belum saatnya kali ye, lagian tidak mendesak. As I said before, Qaswa never fails to accommodate my playing….

*terms

-nickel silver = nikel

-E mechanism = sistem pada flute yang memudahkan pemain untuk memainkan nada E oktaf tertinggi

-open hole / closed hole = flute dengan sistem penjarian bolong atau tertutup. Pada penjarian bolong, lubang-lubang harus ditutup dengan jari pemain, seperti pada rekorder. Pada penjarian tertutup, lubang ditutup oleh klep yang ditekan oleh jari.

 

Wind Dectet — grr..harr..harr…

Tuesday, January 2nd, 2007

Ini cerita sial sekaligus keuntungan buat gue.

Bulan September 2006, gue kepilih untuk main di ensembel tiup kampus dalam format Dectet (sepuluh instrumen) yang terdiri dari flute-oboe-clarinet-horn-bassoon dikali dua pemainnya. Tujuannya untuk konser pada bulan Desember yang tanggalnya belum bisa dipastikan.

Kesialan pertama: jadwal latihan Dectet yang pertama berbarengan dengan konser Ensembel Kontemporer, yang mana gue juga dipilih untuk main disitu. Karena gue pikir Dectet ini akan lebih penting daripada konser, maka gue mengundurkan diri dari orkestra Kontemporer. Tokh mereka juga cuma sekali itu konsernya, mana part-nya prima vista pula. Siang latihan, malam langsung konser. Jadi gue milih Dectet-nya.

Ternyata latihan pertama Dectet diundur ke minggu depan, saudara-saudara!!! Alasannya karena si kondaktur mendadak ada acara lain. Idih, ngeselin banget. Mana pemberitahuannya mendadak, seharusnya kita latihan malam, sms dari si kondaktur datang paginya.

Tau gitu gue ngga usah mundur dari konser. Yang bikin ngenes, kalau gue main di konser itu; gue akan dapat 6 jam bursary hours gratis. Bursary adalah kerja kampus suka rela yang harus gue lakukan dalam rangka membalas budi kampus karena mereka udah ngasih gue beasiswa parsial (dalam setahun gue harus kerja suka rela 60 jam). Enam jam kan lumayan, huh!!!

Kemudian mulailah latihan rutin Dectet. Dari September sampai November, kita latihan seminggu sekali. Gue kebagian part flute 2, tapi harus doubling instrumen. Bukan cuma doubling, triple kali!! Selain main flute normal (flute in C), gue harus main piccolo dan alto flute (flute in G) karena salah satu repertoar kontemporer yang kita mainkan, yaitu dari John McCabe, menuntut banyak "suara" dan efek dari setiap instrumen tiup.

Walhasil seminggu sekali gue ke kampus dengan membawa tiga instrumen. Berat bo!! Flute dan piccolo di punggung, alto ditenteng karena case-nya gede. Belum lagi kerepotan harus pinjam alto flute karena instrumen itu milik kampus dan beredar di kalangan flutis. Jadi tiap minggu gue harus sering kontak dan janjian sama teman yang kebetulan sedang pegang itu alat.

Secara lagu, karya McCabe itu ngga susah, tapi ngerjainnya ribet karena banyak pergantian tempo. Dari 4/4 jadi 7/8 kan abrakadabra. Belum lagi masalah pergantian instrumen. Khusus buat gue, nih bibir dan rahang sampe pegel-pegel karena harus ganti dari flute ke piccolo, ke alto, balik ke piccolo lagi, dan diakhiri dengan alto. Gantinya harus cepet. Mata ke arah kondaktur dan partitur supaya ga ketinggalan bar soalnya tempo-nya auzubilaminzalik, sementara tangan kudu trampil menggapai-gapai instrumen yang gue siapkan dibawah kursi. Sip dah!!

Pas November, gue harus pulang ke Jakarta selama 3 minggu. Maka gue pamit dari Dectet, dan dengan manisnya si kondaktur membolehkan gue pergi. Dia bilang ngga usah khawatir, karena gue ngga pernah bolos latihan jadi ga bakal ketinggalan banyak. Kata dia, konsernya masih pertengahan Desember, jadi bakal ada beberapa kali latihan lagi pas nanti gue balik ke Manchester. Supaya ngga lupa sama lagunya, gue tetap latih itu lagu-lagu Dectet selama gue di Jakarta.

Ketika gue balik ke Manchester akhir November, gue langsung mendapat kabar bahwa Dectet ini akan konser hari Senin. Padahal gue baru sampe situ hari Rabu. Jet lag pula. Ini gimana sih, katanya pertengahan Desember, hello? Rupanya pihak kampus memajukan jadwal konser, sehingga mau ga mau kita harus tampil lebih awal.

Ngeselinnya lagi, hari itu gue dapat sms dari si kondaktur. Katanya, kalau gue ngga mau main ngga apa-apa karena tokh gue baru balik dari liburan. Udah ada pengganti kok, katanya. Idih, rese banget. Siapa yang ngga mau main, lha wong gue udah latihan capek-capek masa gue mundur gitu aja. Lagian jelas-jelas part-nya gue pegang, gue bawa ke Jakarta. Ga mungkin ada pengganti karena mana bisa dia pelajarin itu part?

Mungkin karena gue udah keburu kheki dengan si kondaktur dari awal, akhirnya gue memutuskan untuk ngga ikutan konser. Males ah kalau kerja sama dengan orang seperti itu, artinya dia ngga percaya kalau gue bisa membawakan part gue dengan baik walaupun gue absen 3 minggu. Kalau emang dia ga setuju gue absen, kenapa ga dari dulu aja sebelum gue ke Jakarta dia menyarankan supaya gue cari pengganti? Atau kenapa juga dia ga email gue pas lagi Jakarta? Konyol…

Alasan lainnya gue mundur karena hari Senin adalah hari gue kerja di perpustakaan. Perubahan mendadak ini membuat gue ngga bisa minta ijin untuk day-off dari perpus karena gue udah ijin 3 minggu. Ngga enak kalau Senin itu gue minta ijin lagi, bakal dipecat gue. Ya sudahlah, mungkin emang ngga seharusnya gue main di Dectet. Daripada main tapi kesel sama kondaktur dan dipecat dari kerjaan, mending gue mundur.

Part-part Dectet lalu gue serahkan pada si pemain pengganti pada hari Kamis, dan baru dia baca hari Sabtu. Gue sempat mengingatkan bahwa karya ini susah, harus latihan ritme sendiri dulu sebelum gabung sama ensembel; belum lagi latihan ganti instrumen. Si pemain pengganti manggut-manggut mendengar penjelasan gue. Setidaknya gue udah ngasih sedikit petunjuk buat dia.

Pada akhirnya gue bisa berpikir keuntungan dari kesialan gue tersebut (begitulah orang Indonesia, apapun juga disyukuri). Pertama, gue sekarang menguasai alto flute *yippee* I also began to like it a lot because it has a low, deep and shoothing sound yang enak didengar. Rasanya enak dengerin suara alto setelah selama ini gue cuma mainin nada-nada tinggi dari flute dan piccolo. Mainin alto juga ngga gampang, gue harus latihan abdominal support yang kuat supaya suara rendahnya itu bergaung keluar dan bisa didengar dari jauh.

Kedua, gue belajar mengendalikan embouchure gue untuk lebih fleksibel gara-gara pergantian alat dalam satu waktu. Embouchure flute sedang, piccolo kecil, alto lebar; semua harus dilakukan secara cepat. Artinya otot mulut harus luwes, ngga bisa "dicetak" untuk satu ukuran saja. Wah jadi makin semangat nih belajar alto. Kalau gitu, siapa tahu untuk ujian akhir tahun depan, gue bisa mainin karya Takemitsu untuk alto flute?

*Wind Dectet ini tampil pada hari Senin, 5 hari setelah gue mendarat di Manchester. Pemain flute 2/piccolo/alto yang baru dikatakan gagal karena "hilang" ditengah karya kontemporer John McCabe akibat hanya latihan satu kali dengan ensembel ini, dan tidak mempelajari part-nya dengan sungguh-sungguh*