Keajaiban Bakso: The Last of The Trilogy

Senin: sarapan mie goreng pake bakso rebus, makan malam pakai mie kuah dan bakso

Selasa: sarapan, makan siang dan makan malam berlauk bakso rebus atau goreng, pake nasi atau mie kuah

Rabu: sarapan dan makan siang pakai nasi goreng bakso, makan malam di luar tapi sebelum tidur sempat ngemilin bakso yang direbus trus dimakan pake saos sambel

Kamis: sarapan dan makan siang pakai mie dan nasi goreng bakso (gawat, persediaan bakso menipis)

Jumat: arrrrghhh…. jatah bakso hanya cukup untuk sarapan… ga papa, sikat dulu untuk hari ini. Besok urusannya lain.

Sabtu: (mewek berat)… ga ada bakso!!!!!

Terima kasih untuk mbak Mei Anwar yang telah berbaik hati memberikanku sejumlah besar bakso mentah buatan tangannya sendiri. Salut berat karena sebelum ini gue berusaha bikin bakso sendiri, tapi kurang sukses. Seminggu sebelum ini, mbak Mei tiba-tiba dengan baik hatinya menawarkan bakso buatannya, dan langsung gue sambut dengan tangan terbuka lebar. Akibatnya seminggu gue menggila dengan menu bakso setiap hari.

Rasanya? Sama kayak bakso jalanan ala abang-abang dorongan Jakarta!!! Kecil-kecil tapi gurih, dagingnya empuk. Walau bentuknya tidak bulat sempurna, yang penting rasanya dapat memuaskan keinginan terpendam selama di Manchester.

2 Responses to “Keajaiban Bakso: The Last of The Trilogy”

  1. Lusi Says:

    Huahahahhahaa..!! Dapet gratisan toohh.. Gw kirain lo udh jadi customer tetap supermarket cina,saking desperatenya. Kaya amat seminggu beli bakso mulu.. hihihihi…

  2. Ocky Says:

    Hihihi… ada yang maniak bakso rupanya… Pdhl ada lho bakso murah dan lumayan enak di sini. Tuh di toko quality save di piccadilly, satu kaleng 69p, ada kali isinya 20 biji, judulnya Chicken Meetball in gravy onion sauce… Kalo menurut gw sih lumayan (ya jangan dibandingin ama bakso abang2 jakarta lah). Selamat mencoba!!! :D

Leave a Reply