Wind Dectet — grr..harr..harr…
Ini cerita sial sekaligus keuntungan buat gue.
Bulan September 2006, gue kepilih untuk main di ensembel tiup kampus dalam format Dectet (sepuluh instrumen) yang terdiri dari flute-oboe-clarinet-horn-bassoon dikali dua pemainnya. Tujuannya untuk konser pada bulan Desember yang tanggalnya belum bisa dipastikan.
Kesialan pertama: jadwal latihan Dectet yang pertama berbarengan dengan konser Ensembel Kontemporer, yang mana gue juga dipilih untuk main disitu. Karena gue pikir Dectet ini akan lebih penting daripada konser, maka gue mengundurkan diri dari orkestra Kontemporer. Tokh mereka juga cuma sekali itu konsernya, mana part-nya prima vista pula. Siang latihan, malam langsung konser. Jadi gue milih Dectet-nya.
Ternyata latihan pertama Dectet diundur ke minggu depan, saudara-saudara!!! Alasannya karena si kondaktur mendadak ada acara lain. Idih, ngeselin banget. Mana pemberitahuannya mendadak, seharusnya kita latihan malam, sms dari si kondaktur datang paginya.
Tau gitu gue ngga usah mundur dari konser. Yang bikin ngenes, kalau gue main di konser itu; gue akan dapat 6 jam bursary hours gratis. Bursary adalah kerja kampus suka rela yang harus gue lakukan dalam rangka membalas budi kampus karena mereka udah ngasih gue beasiswa parsial (dalam setahun gue harus kerja suka rela 60 jam). Enam jam kan lumayan, huh!!!
Kemudian mulailah latihan rutin Dectet. Dari September sampai November, kita latihan seminggu sekali. Gue kebagian part flute 2, tapi harus doubling instrumen. Bukan cuma doubling, triple kali!! Selain main flute normal (flute in C), gue harus main piccolo dan alto flute (flute in G) karena salah satu repertoar kontemporer yang kita mainkan, yaitu dari John McCabe, menuntut banyak "suara" dan efek dari setiap instrumen tiup.
Walhasil seminggu sekali gue ke kampus dengan membawa tiga instrumen. Berat bo!! Flute dan piccolo di punggung, alto ditenteng karena case-nya gede. Belum lagi kerepotan harus pinjam alto flute karena instrumen itu milik kampus dan beredar di kalangan flutis. Jadi tiap minggu gue harus sering kontak dan janjian sama teman yang kebetulan sedang pegang itu alat.
Secara lagu, karya McCabe itu ngga susah, tapi ngerjainnya ribet karena banyak pergantian tempo. Dari 4/4 jadi 7/8 kan abrakadabra. Belum lagi masalah pergantian instrumen. Khusus buat gue, nih bibir dan rahang sampe pegel-pegel karena harus ganti dari flute ke piccolo, ke alto, balik ke piccolo lagi, dan diakhiri dengan alto. Gantinya harus cepet. Mata ke arah kondaktur dan partitur supaya ga ketinggalan bar soalnya tempo-nya auzubilaminzalik, sementara tangan kudu trampil menggapai-gapai instrumen yang gue siapkan dibawah kursi. Sip dah!!
Pas November, gue harus pulang ke Jakarta selama 3 minggu. Maka gue pamit dari Dectet, dan dengan manisnya si kondaktur membolehkan gue pergi. Dia bilang ngga usah khawatir, karena gue ngga pernah bolos latihan jadi ga bakal ketinggalan banyak. Kata dia, konsernya masih pertengahan Desember, jadi bakal ada beberapa kali latihan lagi pas nanti gue balik ke Manchester. Supaya ngga lupa sama lagunya, gue tetap latih itu lagu-lagu Dectet selama gue di Jakarta.
Ketika gue balik ke Manchester akhir November, gue langsung mendapat kabar bahwa Dectet ini akan konser hari Senin. Padahal gue baru sampe situ hari Rabu. Jet lag pula. Ini gimana sih, katanya pertengahan Desember, hello? Rupanya pihak kampus memajukan jadwal konser, sehingga mau ga mau kita harus tampil lebih awal.
Ngeselinnya lagi, hari itu gue dapat sms dari si kondaktur. Katanya, kalau gue ngga mau main ngga apa-apa karena tokh gue baru balik dari liburan. Udah ada pengganti kok, katanya. Idih, rese banget. Siapa yang ngga mau main, lha wong gue udah latihan capek-capek masa gue mundur gitu aja. Lagian jelas-jelas part-nya gue pegang, gue bawa ke Jakarta. Ga mungkin ada pengganti karena mana bisa dia pelajarin itu part?
Mungkin karena gue udah keburu kheki dengan si kondaktur dari awal, akhirnya gue memutuskan untuk ngga ikutan konser. Males ah kalau kerja sama dengan orang seperti itu, artinya dia ngga percaya kalau gue bisa membawakan part gue dengan baik walaupun gue absen 3 minggu. Kalau emang dia ga setuju gue absen, kenapa ga dari dulu aja sebelum gue ke Jakarta dia menyarankan supaya gue cari pengganti? Atau kenapa juga dia ga email gue pas lagi Jakarta? Konyol…
Alasan lainnya gue mundur karena hari Senin adalah hari gue kerja di perpustakaan. Perubahan mendadak ini membuat gue ngga bisa minta ijin untuk day-off dari perpus karena gue udah ijin 3 minggu. Ngga enak kalau Senin itu gue minta ijin lagi, bakal dipecat gue. Ya sudahlah, mungkin emang ngga seharusnya gue main di Dectet. Daripada main tapi kesel sama kondaktur dan dipecat dari kerjaan, mending gue mundur.
Part-part Dectet lalu gue serahkan pada si pemain pengganti pada hari Kamis, dan baru dia baca hari Sabtu. Gue sempat mengingatkan bahwa karya ini susah, harus latihan ritme sendiri dulu sebelum gabung sama ensembel; belum lagi latihan ganti instrumen. Si pemain pengganti manggut-manggut mendengar penjelasan gue. Setidaknya gue udah ngasih sedikit petunjuk buat dia.
Pada akhirnya gue bisa berpikir keuntungan dari kesialan gue tersebut (begitulah orang Indonesia, apapun juga disyukuri). Pertama, gue sekarang menguasai alto flute *yippee* I also began to like it a lot because it has a low, deep and shoothing sound yang enak didengar. Rasanya enak dengerin suara alto setelah selama ini gue cuma mainin nada-nada tinggi dari flute dan piccolo. Mainin alto juga ngga gampang, gue harus latihan abdominal support yang kuat supaya suara rendahnya itu bergaung keluar dan bisa didengar dari jauh.
Kedua, gue belajar mengendalikan embouchure gue untuk lebih fleksibel gara-gara pergantian alat dalam satu waktu. Embouchure flute sedang, piccolo kecil, alto lebar; semua harus dilakukan secara cepat. Artinya otot mulut harus luwes, ngga bisa "dicetak" untuk satu ukuran saja. Wah jadi makin semangat nih belajar alto. Kalau gitu, siapa tahu untuk ujian akhir tahun depan, gue bisa mainin karya Takemitsu untuk alto flute?
*Wind Dectet ini tampil pada hari Senin, 5 hari setelah gue mendarat di Manchester. Pemain flute 2/piccolo/alto yang baru dikatakan gagal karena "hilang" ditengah karya kontemporer John McCabe akibat hanya latihan satu kali dengan ensembel ini, dan tidak mempelajari part-nya dengan sungguh-sungguh*